World Teacher Chap 39 B. Indonesia
Chapter 39 Kakak perempuan yang disebut Putri Lifell
Diterjemahkan oleh
Bagian 1
"Kakakku....Putri Lifell....aku ingin kamu bertemu dengannya"
Reese memohon padaku.
"Bertemu dengannya....Apa kakakmu ini, Lifell-hime sakit atau semacamnya?"
"Aku tidak begitu paham juga. Tiga hari yang kemudian kondisi fisiknya mulai memburuk secara tiba-tiba, dan gejalanya semakin parah hari demi hari...."
"Bagaimana dengan pengobatannya?"
"Sihir penyembuhku efektif. Gejalanya memang meringankan, tapi begitu saya berhenti, ia eksklusif menderita lagi...."
"Setiap kali kamu berhenti memakai sihir penyembuh, kamu melihatnya menderita lagi, ya....?"
Dia tampak kewalahan, inikah imbas dari memakai sihir penyembuh terus-terusan? Sangat mencengangkan, ia mungkin sudah berusaha keras hingga batas maksimal. Namun, apa lantaran kondisi saudaranya yang tidak membaik sama sekali, ia hingga tiba dan berkonsultasi padaku bahkan jikalau hal itu biasa membuatku terlibat dalam duduk kasus keluarga kerajaan?
"Setelah Haha-sama meninggal, saya diberitahu oleh seorang utusan bahwa diriku berasal dari keluarga kerajaan dan dipindahkan dari tempat tinggalku dulu ke istana. Begitu saya cemas wacana apa yang akan terjadi padaku....Ane-sama menyelamatkanku"
Reese mulai menceritakan situasinya ketika itu. Dia diperlakukan hambar ketika bertemu dengan ayahnya, sang Raja, hingga menciptakan gadis ini ingin menangis. Lifell-hime tampaknya telah memintanya untuk tetap tinggal dan membantunya beradaptasi.
Menurut sang putri, Reese merupakan orang yang tidak beruntung. Sebagai bekas rakyat biasa malah terlibat dengan kewajiban keluarga kerajaan. Kakaknya pun menyarankan biar gadis ini menyembunyikan status sosialnya bahkan ketika pergi ke sekolah.
"Berkat Ane-sama, saya bisa pergi ke sekolah, bertemu Emilia....sekaligus Sirius-san dan Reus. Tapi saya tak bisa melaksanakan apapun meski penyalamatku sedang menderita. Tolong! Bagaimanapun juga....tolonglah Ane-sama"
Reese frustrasi dengan ketidakberdayaannya. Dia terisak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Emilia mendekat dan memeluk gadis ini, sementara dengan lembut menepuk punggung untuk menenangkannya.
"Aku jadi ingin segera bertemu kakakmu itu. Tolong perkenalkan kami nanti"
"Aku juga!"
"Emilia, Reus....Iya, saya akan mengenalkan teman-temanku"
"Tentunya, saya juga harus mengenalkan diri sebagai Shishou dari Reese....Yah. Meski saya ragu ia akan mempercayainya atau tidak"
Itu lantaran saya lebih muda dan masih tampak mirip seorang anak. Mereka hanya akan menganggap diriku yang yakni Shisou-nya sebagai topik yang tidak masuk akal. Reese sedikit tertawa, mungkin ia juga memikirkannya.
"Reese, saya tidak tahu situasi kakakmu. Karena itulah, bisakah kamu memberi beberapa informasi sekarang? Kau bisa merasa duka nanti, kan?"
"Ya....benar juga. Itu memang harus. Jadi, dari mana saya harus bicara?"
"Pertama, sebutkan gejala-gejaoa penyakitnya. Rincian hari dan waktu ketika sakitnya muncul. Dan juga, apa ia pernah menderita penyakit parah di masa lalu?"
Jujur saja, saya ingin membantu, tapi tidak tahu bagaimana ia bisa jatuh sakit. Informasi dasar bisa di dapatkan selagi kami dalam perjalanan menuju tempat Lifell-hime, ini juga mempunyai kegunaan untuk menghemat waktu ketika tiba disana. Adapun rinciannya, itu bisa di dapatkan sesudah saya menyidik orang yang bersangkutan.
∆∆∆
Beberapa menit kemudian, kami tiba di tempat yang agak terpisah dari distrik dimana para aristokrat tinggal.
Di ujung taman luas indah nan rapi, berdiri sebuah bangunan besar yang bisa terlihat ditinggali puluhan orang dengan nyaman. Meski rumah aristokrat lainnya juga mewah, Mansion ini terang berada di peringkat yang berbeda.
"Keluargaku biasanya berada di istana, tapi semenjak ia sakit, Ane-sama menentukan beristirahat di sini"
"Hal ini tidak diketahui oleh publik, apakah ada perintah untuk mencegah penyebaran informasi?"
"Ya. Karena pembicaraan wacana pertunangan telah muncul, isu jelek ini ditutup-tutupi"
Saat turun dari kereta kuda sambil mendengarkan klarifikasi Reese, terlihat beberapa laki-laki dan perempuan keluar dari Mansion dan menuju ke arah kami. Mereka mengenakan sesuatu yang ibarat pakaian pelayan dan butler. Kau bisa mengerti kalau mereka yakni petugas rumah ini.
"Selamat tiba kembali, Reese-sama. Boleh saya tahu siapakah orang-orang ini?"
Setelah membungkuk ke Reese, perempuan bagus berpakaian pelayan yang mungkin pemimpin dari seluruh petugas, menatap kami. Kupikir ia berasal dari ras kelinci. Ada indera pendengaran panjang tegak di kepala dan ekor bundar di pantatnya.
Hanya saja, tatapan tajam itu menciptakan dirinya tidak tampak mirip pelayan normal. Ada kesan kalau ia merupakan individu yang mempunyai pengalaman bertarung. Mungkin jikalau saya mencoba menyakiti Reese, ia akan eksklusif mengambil hidupku.
Karena ia melihat kesini tampak berhati-hati, Reese pun bergegas mengenalkan kami.
"Aku pulang, Senia. Orang-orang ini yakni temanku----"
"Felice-sama! Kemana saja anda?!"
....Namun, satu orang memotongnya.
Dia yakni cowok yang mengenakan armor ringan didominasi warna biru dengan pedang terhiaskan banyak ornamen indah. Bisa dibayangkan kalau ia yakni ksatria penjaga yang melayani eksklusif atas perintah raja.
Pemuda energik, tapi pandangannya yang diarahkan kesini terisi kejijikan. Tidak....dilihat dari pergerakan bola matanya, ia sedang melihat Emilia dan Reus?
"Lagi pula, kenapa malah membawa dua ras hewan kesini? Meski anda yang paling tahu situasi sang putri"
"Diamlah, Melt"
"Apa katamu?!"
"Reese-sama tidak bisa menjelaskan apapun jikalau kamu terus bicara! Selain itu, akulah atasan di sini. Apa hak yang kamu punya hingga mengganggu ucapan dari adik perempuan Lifell-sama?!"
"Kuhh...."
Si ras kelinci, Senia rupanya yakni bos nya. Pria yang dipanggil Melt pun mundur sambil tampak menyesal. Disaat suasana suram mereda, Senia menjulurkan tangannya biar Reese melanjutkan.
"Emm....Ini teman-temanku, Emilia dan Reus. Juga master mereka berdua, Sirius-san"
"Senang bertemu denganmu, namaku Sirius"
"Namaku Emilia"
"Aku Reus"
Para petugas, termasuk Senia terkejut ketika kami menyapa dengan bungkukan yang diajarkan Kaa-san. Penampilan sopan santun tampaknya berpengaruh, kehati-hatian mereka menjadi sedikit berkurang. Seperti yang dibutuhkan dari teknik Kaa-san.
"Itu sangat sopan. Namaku Senia, saya merupakan petugas pribadi Lifell-sama. Jika benar yang disini yakni sahabat Reese-sama, kami akan menyambut kalian semua
Ketika Senia memberi salam dengan bungkukan yang tidak kalah dari ibu, beberapa petugas juga ikut menirunya. Mungkin ada faksi di antara mereka lantaran tidak semua orang melakukannya. Tapi, ayo kesampingkan duduk kasus itu sekarang.
"Maaf, Senia. Meskipun saya ingin lebih mengenalkan mereka, prioritasku yakni biar ketiganya bertemu Ane-sama sesegera mungkin"
"Tapi, Reese-sama, Lifell-sama----"
"Apa yang anda bicarakan?!"
Sekali lagi, laki-laki berjulukan Melt menyela. Dia melotot ke arah kami tanpa menyembunyikan niat membunuhnya. Tampak seolah dirinya siap menarik pedang.
"Apa yang Anda pikirkan dengan membiarkan orang biasa untuk melihat sang putri? Bahkan jikalau ia tidak sakit, sebagai Pengawal Kekaisaran, saya takkan pernah mengizinkan ini!"
"Jangan katakan hal mirip itu! Ada kemungkinan tinggi Ane-sama bisa sembuh. Tolonglah!"
"Tidak mungkin!!"
Pria ini tampaknya bertipe keras kepala, tapi apa yang ia ucapkan ada benarnya. Meski telah diperkenalkan oleh Reese, yakni hal yang tidak mungkin untuk membiarkan orang-orang mencurigakan bertemu eksklusif putri sebuah kerajaan. Namun tetap saja Reese tidak berhenti, ia masih memegang tangan Senia sambil memohon.
"Tolong, Senia. Jika kita menyerahkan ini pada Sirius-san, pasti....ya, ia niscaya bisa melaksanakan sesuatu untuk Ane-sama"
"Reese-sama...."
Sementara Melt menciptakan keributan, Senia memejamkan mata untuk mempertimbangkannya. Beberapa ketika kemudian, ia perlahan membuka mata dan memberi jalan ke arah mansion.
"Selamat datang, semuanya. Lifell-sama sedang beristirahat di dalam"
"Bajingaaan!! Berani-beraninya kamu mengabaikan pendapatku sebagai Pengawal Kerajaan?!"
"Perintahku lebih diutamakan di mansion ini. Lagi pula, kamu juga harus ikut. Jika mereka mengambil tindakan bermusuhan, bergeraklah tanpa ragu selayaknya Penjaga Kekaisaran"
"Tentu saja. Aku akan eksklusif menebas, jikalau mereka menyampaikan sikap mencurigakan"
"Senia...."
"Maafkan aku. Apa yang dikatakan Melt memang masuk akal. Karena itulah, saya akan membawanya"
"Tidak. Terima kasih, Senia!"
Saat Reese memeluknya, Senia memasang wajah di penuh kasih sayang. Ekspresi itu mirip dengan Erina, menciptakan Emilia dan Reus menyipitkan mata.
Reese yang tak pernah mempunyai aliran jelek terhadap ras hewan mungkin berkat Senia, lantaran itulah ia bisa berteman dengan Emilia.
"Sirius-san, ayo pergi"
"Ya"
"Silakan, kearah sini"
∆∆∆
Reese, kami dan si Penjaga Kerajaan, Melt, dibimbing ke dalam mansion oleh Senia.
Bagian dalam bangunan ini sungguh megah, dilengkapi patung-patung dan sofa mewah. Sementara berjalan sambil melihat interiornya, Emilia dan Reus berkali-kali menoleh kebelakang untuk mengintip sosok Melt. Ini masuk akal lantaran cowok itu terus melepaskan niat membunuh semenjak beberapa waktu yang lalu. Hanya saja, kenapa ia terlalu bersikap hati-hati terhadap kami yang bahkan tidak membawa senjata?
"Kendalikan niat membunuhmu, Melt. Untuk apa kamu menyebabkan belum dewasa sebagai musuh?"
"Aku hanya memastikan mereka tidak melaksanakan hal-hal yang tidak perlu"
"Apa pun, tolong tenangkan dirimu. Kita akan segera hingga di ruangan Lifell-sama. Apakah pantas untuk seorang Pengawal Kerajaan mirip itu di erat tuannya?"
"....Apa boleh buat"
Begitu Melt tenang, kamipun tiba di depan pintu ganda yang megah. Mungkin abang perempuan Reese, Lifell-hime, ada di baliknya.
Senia mengetuk sambil bertanya, yang kemudian diikuti sebuah bunyi dari dalam.
"Lifell-sama, Reese-sama gres saja kembali. Dia meminta Anda untuk bertemu teman-temannya, apakah anda mengizinkan?"
"Teman Reese?! Dia kesannya mengundang mereka ya. Bawa mereka masuk"
"Silakan, semuanya"
Ketika Senia membuka pintu dan memperbolehkan setiap orang masuk, Reese lah yang bergegas kesana pertama, diikuti oleh kami.
Tempat ini tampak mirip perpustakaan kecil lantaran banyaknya rak yang berjejer terisi buku. Di ujung kamar, terdapat kasur lengkap dengan kanopinya. Disana, seorang peremuan dengan rambut merah lurus panjang hingga ke pinggang mengangkat pecahan atas tubuh dan menolehkan wajahnya ke arah kami.
"Aku pulang, Ane-sama"
"Selamat tiba kembali, Reese. Aku sempat gundah lantaran kamu pergi dengan tergesa-gesa, tapi ternyata itu untuk mengundang teman-temanmu"
Sesuai dengan gelarnya sebagai putri, Lifell-hime benar-benar cantik. Dia mungkin kehilangan sedikit berat tubuh lantaran sakit, tapi mata merahnya yang cerah membuatku ragu apa ia benar-benar sakit atau tidak.
"Ya, Ane-sama. Namun, bagaimana dengan kondisi fisikmu? Karena Mana-ku sudah agak pulih, haruskah saya merawatmu lagi dengan sihir penyembuh?"
"Jangan memaksakan diri. Bukankah kamu tadi runtuh lantaran kewalahan?"
"Dibandingkan dengan Ane-sama, ini bukan apa-apa"
"Lagipula, walaupun sembuh, rasa sakitnya akan kembali. Kesampingkan itu, bagaimana kalau memperkenalkan belum dewasa di belakangmu? Aku harus menyapa mereka, yang terus kamu ceritakan dengan bangga, kan"
"Bangga....apa maksudnya, Reese?"
"Ha-Hanya pembicaraan normal! Ane-sama juga, jangan katakan hal yang aneh!"
Reese sempat panik, tapi segera kembali normal. Gadis ini menyampaikan penampilan yang sama mirip ketika bersama kami. Dengan kata lain, Lifell-hime yakni sahabat yang Reese percayai.
"Bagaimanapun, izinkan saya mengenalkan mereka. Anak ini yakni Emilia. Dia sahabat pertamaku di sekolah"
"Senang bertemu dengan Anda, namaku Emilia. Aku sering dibantu oleh Reese"
"Anak yang sangat sopan dan santun, mirip yang pernah kudengar. Hmm, ia memang mirip Senia"
"Ane-sama?!"
"Tahukah kau, Emilia? Sejak tinggal di sini, anak ini selalu dimanjakan oleh Senia. Mungkin itu sebabnya ia menjadi sangat baik hati kepada ras binatang, hingga bisa berteman denganmu. Aku hanya merasa bahagia ketika tahu bahwa dirinya mempunyai kekerabatan sedekat itu dengan orang yang mirip Senia
"Ane-sama....tolong hentikan"
Seorang putri yang cara bicaranya terlalu berterus terang, ya. Dia mungkin mirip ini hanya ketika dengan adiknya, tapi saya tidak membenci sifat itu. Wajah Reese memerah sambil terus melambaikan tangan pada Lifell-hime.
"Kau begitu imut ketika tersipu. Oh ya, mungkin kalian sudah tahu ini, tapi namaku yakni Lifell. Ngomong-ngomong....Rambut perak Emilia terlihat benar-benar indah. Boleh saya menyentuhnya?"
"Jika Anda tidak keberatan dengan rambutku, silakan"
"Hime-sama! Ingatlah kalau Anda sedang sakit, kenapa malah ingin menyentuh ras binatang?!"
"Jangan khawatir. Aku juga peduli pada kondisiku sendiri, tapi saya tetap ingin menyentuh rambutnya. Jadi, biarkan saya melaksanakan ini!"
Meskipun Melt berteriak dari sudut ruangan, Lifell-hime bahkan sama sekali tidak menatapnya dan hanya berfokus menyentuh rambut Emilia.
"Menakjubkan....sangat halus dan tak kusut sedikitpun ketika jariku menyisirnya. Bagaimana kamu bisa secantik ini?"
"Berkat masterku....Sirius-sama. Selain diberi masakan bernutrisi seimbang setiap hari, kami juga diajari cara menjaga tubuh. Jadi, bukan hanya rambut, kami sendiri sangat sehat"
"Begitu ya. Makara itu sebabnya Reese tampak bagus akhir-akhir ini. Hei, saya juga ingin kamu mengajariku banyak sekali hal"
Sifat berterus terang Princess Lifell tidak berhenti bahkan sesudah Senia memanggilnya berkali-kali. Reese agak malu akan adegan itu, tapi lantaran pengenalan diri belum selesai, ia secara paksa menghentikannya.
"Ane-sama, tolong hentikan. Daripada itu, anak yang dsini yakni Reus. Dia adik Emilia"
"Senang bertemu dengan anda. Namaku Reus, sahabat yang juga Reese-ane anggap sebagai adik"
"Hmmm....kau terlihat lebih tangguh dari apa yang kudengar. Jika Reese menganggapmu sebagai adik, saya juga akan memperlakukanmu secara sama. Tidak perlu memakai sebutan kehormatan untukku. Bagaimana kalau bicara mirip biasa?"
"Hime-sama! Menggunakan sebutan kehormatan yakni kewajiban bagi kaum jelata!"
"Melt, akulah yang memintanya, jadi itu tidak masalah. Aku tak melarangmu bersikap profesional akan pekerjaan, tapi memahami keputusan tuanmu juga merupakan pecahan dari tugas, kamu tahu"
"Kuh....mengerti"
Melt pun membisu dengan enggan. Terlalu loyal terhadap kiprah juga merepotkan. Pemuda ini tampaknya sangat tidak cocok melayani Lifell-hime. Tapi sayang sekali, saya tidak bisa bersimpati untuknya. Tatapan hambar yang ia tunjukkan untuk ras hewan cukup membuatku tidak suka.
"Kalau begitu, Lifell-ane....apa mirip itu boleh? Aku Reus, bahagia bertemu denganmu"
"Kau masih agak kaku, tapi....yah, tidak apa-apa. Senang bertemu denganmu, Reus. Kudengar kamu telah melindungi Reese dari kelompok pembunuh yang mengerikan, jadi saya ingin mengungkapkan rasa syukur ku setidaknya satu kali"
"Aku tidak melakukannya biar bisa mendapatkan ucapan terima kasih. Lagi pula, meski sudah berjuang, saya masih tidak bisa melindungi Nee-chan dan Reese-ane hingga akhir"
"Bukankah Reese ada di sini kini berkat perjuanganmu? Ucapan terima kasihku tidaklah salah, menerimanya juga merupakan bentuk kesopanan"
"Apakah begitu? Lalu, saya akan menerimanya"
"Anak baik"
Ketika kepalanya selesai ditepuk dengan lembut, Reus menggaruk pipinya malu-malu. Bagus, Reus. Ditepuk oleh putri sebuah kerajaan yakni hal yang langka, kamu tahu.
"Lalu, anak yang itu?"
"Ya, Ane-sama. Dia yakni Shishou-ku, yang telah mengajarikan banyak sekali hal padaku hingga sekarang. Dialah Sirius-san"
"Senang bertemu dengan Anda, Lifell-hime"
"Jadi....ini Sirius-san, orang yang dikagumi Reese ya. Kudengar kamu lebih muda, tapi boleh saya tahu berapa usiamu?"
Sambil melihatku dari kepala hingga ujung kaki, ia melontarkan pertanyaan. Jika tidak salah, dirinya berusia 17 tahun, tapi itu akan sulit dipercaya ketika tahu bahwa ia mempunyai wawasan yang sangat luas. Ditatap oleh perempuan yang pantas disebut jenius begitu lekatnya membuatku mulai takut.
"Aku akan berusia dua belas di tahun ini....Sesuai dugaan, akan abnormal jikalau saya membimbing Reese ya?"
"Yah. Dia menjadi sangat hebat sesudah bertemu denganmu. Dari awal, gadis ini memang sudah luar biasa. Tapi, kini akan masuk akal jikalau sihir penyembuhan Reese disebut sebagai yang terbaik di kerajaan. Selain itu, suasana yang terasa darimu tidak mirip anak kecil biasa. Benar juga....lebih mirip Otou-sama"
Langsung bisa memahami diriku ketika bertemu untuk pertama kalinya, sama mirip kepala sekolah....dia bukan orang biasa. Seperti yang bisa diduga dari calon Ratu berikutnya.
"Anak sepertiku mirip dengan sang Raja? Anda niscaya bercanda"
"Yah, saya tidak terlalu peduli wacana itu. Poin paling penting adalah, berkatmu Reese menjadi lebih kuat. Biarkan saya berterima kasih bukan sebagai putri Lifell, tapi sebagai saudara perempuan Reese"
"Aku niscaya menerimanya. Namun, Reese yang kini merupakan hasil dari usahanya sendiri. Aku hanya sedikit membantu. Selain itu, masuk akal saja karena saya Shisou nya"
"Apakah kamu sungguh berusia 11 tahun? Aku jadi mulai mengerti kenapa Reese ingin merangkul punggungmu"
"Ane-sama!"
"Aah maaf. Itu diam-diam ya. Ngomong-ngomong, saya sempat khawatir lantaran Reese tidak ada di sampingku sesudah ia masuk sekolah. Aku benar-benar lega begitu tahu ternyata kalian berteman meski sudah mengetahui identitas aslinya"
"Maaf jikalau pertanyaan ini cukup kasar, tapi kenapa keberadaan Reese disembunyikan?"
Masyarakat hanya tahu kalau kerajaan ini hanya mempunyai seorang putri, yaitu Lifell-hime. Namun, kenyataanya adalah, terdapat satu perempuan lagi yang diakui sebagai putri selain dirinya. Lalu kenapa keluarga kerajaan menyembunyikan fakta itu?
Ini bisa menjadi titik balik untuk putri negeri ini. Karena sudah terlanjur terlibat walaupun hanya sedikit, saya jadi ingin lebih memahaminya.
"Jangan lancang, jelata! Jika kamu membuka mulutmu lebih dari itu, saya akan menebasmu!"
"...."
Karena terkait dengan diam-diam keluarga kerajaan, masuk akal jikalau Melt mengambil ancang-ancang dari belakang. Aku juga bisa mencicipi niat membunuh dari Senia yang berdiri di samping Lifell-hime dan menggenggam tangannya. Reus melindungi punggungku, sedangkan Emilia melangkah agak maju. Sambil waspada, saya melihat Reese yang mengawasi adegan ini dengan tatapan bermasalah.
Situasi bagaikan benang yang terus diregangkan itupun berlanjut untuk sebentar, hingga kesannya teputus oleh Lifell-hime.
"Senia, Melt. Tolong berhenti"
"Mengert"
"Tapi---!"
"Reese sangat mempercayai belum dewasa ini. Aku juga berpikir hal itu perlu dibicarakan lantaran mereka berhak untuk tahu"
"Ane-sama....Ya. Aku tidak ingin lagi menyembunyikan sesuatu dari teman-temanku"
"Benar kan? Yah, alasan sesederhana itu tidaklah aneh. Asalkan mereka tidak memberitahu orang lain, saya takkan keberatan menjelaskannya"
"Aku berjanji untuk tidak membuatkan informasi ini ke siapapun. Aku hanya ingin tahu lebih banyak wacana Reese"
Jujur saja, saya tidak ingin mempunyai keterkaitan apapun dengan keluarga kerajaan, tapi berbeda lagi jikalau Reese terlibat didalamnya. Setelah lulus, kami ingin ia untuk ikut dalam perjalanan walau akan sulit jikalau keluarga kerajaan terlibat.
Andaikan kami pergi nantinya, saya jadi tidak perlu memikirkan hidangan latihan dan ia bisa hidup dengan aman. Tak peduli bagaimana saya memandangnya, ia tidak mempunyai karakteristik seseorang yang bekerjasama dengan keluarga kerajaan, dirinya lebih cocok diajarkan sihir ofensif dan cara mengintimidasi.
"Alasan keberadaan Reese yang tidak diumumkan yakni lantaran ia merupakan anak haram, namun duduk kasus utamanya bertumpu pada gangguan dari banyak pihak. Bila jumlah anak perempuan meningkat, tentu saja akan ada banyak aristokrat yang ingin masuk ke keluarga kerajaan dengan berebut anak ini untuk dijadikan istri. Aku bisa saja menyingkirkan orang-orang itu, tapi Reese akan gampang tertipu. Yah, apa boleh buat lantaran ia sebelumnya yakni rakyat jelata yang baik dan lembut"
"Rasanya saya mulai mengerti. Makara tujuanya biar ia tidak dipandang sebagai 'hidangan lezat' oleh orang lain, ya*"
[Ini diucapkan oleh Emilia]
"Ane-sama, Emilia juga....Aku merasa jelek jikalau kalian mengatakannya sejelas itu"
Keceriaan dimana ia kesannya bisa mengenalkan teman-temannya sendiri ke kakaknya pun perlahan tersingkir. Reese terlalu naif mirip biasanya, tapi itu juga merupakan daya tarik yang gadis ini miliki.
"Itulah sebabnya saya memberi tahu Tou-san untuk menyembunyikan informasi. Makara orangnya sendiri bisa menentukan apa yang ia inginkan sesudah dewasa"
Hidup sebagai putri kedua keluarga kerajaan atau menemukan cara gres untuk hidup sebagai rakyat jelata....semuanya terserah dia.
"Aniki, aniki. Jika kita bisa meyakinkan Reese-ane, bukankah kita bisa bepergian bersama?"
"Yah, mungkin saja"
Dia mempunyai abang perempuan yang bisa diandalkan di sini. Bahkan jikalau kami mengajaknya untuk ikut, itu tidak akan bisa diputuskan dengan cepat.
Lebih baik beralih untuk menanyakan hal penting lainnya.
"Apa ia mempunyai hak untuk naik takhta?"
"Kau cukup tegas, Sirius-kun. Dia memang memilikinya, tapi di urutan paling bawah lantaran masih ada saudara-saudaranya yang lain termasuk diriku. Itu mustahil, kecuali semua orang di keluarga kerajaan meninggal lantaran kastil terkena hantaman sihir yang dahsyat"
"Lifell-sama, tolong berhenti menyampaikan hal tidak bijaksana mirip itu"
"Kau paham sekarang, bajingan?! Jika Felice-sama diambil sebagai istri, orang itu bisa naik dalam keluarga kerajaan!"
Melt mulai melontarkan olok-olokan sambil menunjukku. Dia menyebutkan kelemahan dari duduk kasus ini, mungkin apa boleh buat jikalau orang bersangkutan tidak mengetahui apapun wacana itu*.
[Yg disinggung disini yakni Reese yg tak mengetahui kalau dirinya bisa naik takhta]
"Ada apa? Sepertinya kamu mempunyai hal untuk dikatakan"
"Kesampingkan Reese, saya sama sekali tidak tertarik dengan urusan keluarga kerajaan. Sebaliknya, saya lega ketika Anda menjelaskan bahwa ia tidak mungkin bisa naik takhta"
Reese panik dengan wajah memerah ketika mendengar jawabanku. Bergantung pada siapa yang mendengarkan, ini bisa saja ditafsirkan mirip 'Jadi tidak duduk kasus kalau saya menikahi Reese'.
Gadis itu tampaknya tidak tertarik dengan urusan keluarga kerajaan. Kurasa posisinya yang kini yakni yang terbaik.
"Fufu....mampu memahami hal-hal wacana Reese dengan sangat cepat, apa kamu punya pertanyaan lain?"
"Tidak, tidak ada"
"Kalau begitu, haruskah kita mengobrol sedikit lagi? Aku ingin tahu apa yang dilihat Reese pada kalian"
"Tentu saja---....itulah yang ingin saya balas, tapi pertama, saya ingin menuntaskan usul Reese"
"Permintaan? Permintaan macam apa itu, Reese"
"Benar juga, Ane-sama! Ini wacana penyakitmu!"
Dia tampaknya lupa lantaran depresi ketika rahasianya terbongkar. Sisi Reese yang malu juga menggemaskan.
Ekspresinya memang imut, tapi kata-katanya masih terang dan serius. Kupikir saya harus menyerahkan ini padanya daripada mencoba menyidik Lifell-hime dengan tergesa-gesa. Hanya saja, ketika berpikir kalau orang yang membawa kami kesini malah melupakan tujuannya sendiri....
"Tidak apa-apa Reese. Tubuhku memang terasa lemas, tapi tampaknya obat gres akan tiba disini besok. Aku niscaya bisa sembuh jikalau meminumnya"
"Tak ada jaminan mirip itu! Bukankah abang menyampaikan bahwa sihir penyembuhku merupakan yang hampir terbaik di kerajaan ini? Lalu kenapa tanda-tanda kesembuhanmu tidak muncul?!"
"Mungkin penyakitnya memang tidak bisa dilenyapkan dengan kekuatan sihir. Selain itu, kamu tak perlu sekhawatir itu lantaran saya berencana memanggil dokter dari tempat jauh jikalau obatnya tidak manjur"
"Kalau begitu....bagaimana dengan meminta Sirius-san untuk memeriksamu?"
"Sirius-kun?"
"Ya. Sirius-san mengenal tubuh insan dengan baik, sihir penyembuhku berada di tingkat ini lantaran diajari olehnya. Itulah kenapa saya berpikir untuk membawanya dan menyidik penyebab penyakit Ane-sama"
"Jadi....Apa ia akan menyentuhku?"
"Benar. Sirius-san, maukah kamu melakukannya?"
"Tolong tunggu"
Ekspresi Lifell-hime berubah ketika Reese mendorong diriku ke hadapannya.
Itu bukan lagi wajah lembut seorang abang perempuan, melainkan sang putri kerajaan, Lifell Bardfeld. Dia melihat ke sini dengan tatapan tajam.
"Reese, meski kamu yakni adik perempuanku, apa kamu tidak mengerti posisi kakakmu ini? Tak peduli seberapa inginnya kau, saya takkan membiarkan sikap egois semacam itu"
"Tapi....tapi saya khawatir dengan Ane-sama!"
"Ya, saya mengerti akan kebaikanmu itu. Tapi, diriku tetaplah seorang putri. Ini yakni sesuatu yang tidak bisa saya abaikan jikalau merupakan usul dari adikku sendiri. Dan untuk Sirius-kun"
"Apa itu?"
"Untuk menyentuhku yang merupakan putri sebuah kerajaan sebelum pernikahannya. Apa kamu siap dengan resikonya?"
Aku beranggapan kalau hal ini bukanlah suatu duduk kasus lantaran Lifell-hime sendiri menepuk kepala Reus. Masalahnya mungkin pada Menyentuh tanpa izin, tapi....bagiku itu tidak relevan.
"Tidak masalah. Aku ingin membantu lantaran Reese yang meminta. Lagipula, Anda merupakan kakaknya. Hanya saja, saya mempunyai syarat sebelum bertindak"
"Heehh....setelah saya menyatakan bahwa menyentuhku itu tidak diizinkan, kamu memunculkan syarat ya. Boleh saya mendengarnya?"
"Aku akan memakai sihir khusus yang dihentikan diketahui oleh orang lain. Aku ingin Anda berjanji untuk tidak membuatkan informasi wacana itu"
"Bajingan! Beraninya kamu menyampaikan sikap lancang kepada sang Putri! Tak bisa diampuni!"
"Diamlah, Melt. Akulah yang berbicara dengannya.....Apa yang akan terjadi jikalau saya tidak bisa merahasiakannya?"
"Jika informasinya hingga bocor, saya akan membawa Reese kabur dari Elysion"
"Heeehh?!"
Sebuah pelarian yang sempurna. Kedua bersaudara niscaya akan ikut. Aku tidak mempunyai alasan untuk tetap tinggal jikalau murid-murid juga bersamaku. Aku bisa membawa Reese pergi dengan bebas dan melarikan diri.
Wajah orang yang bersangkutan memucat, sedangkan kakaknya melihat ke sini dengan niat membunuh.
"....Apa menurutmu saya akan membiarkan itu? Kelompok pengejar akan dikerahkan untuk segera menangkapmu"
"Kalau begitu, saya mungkin harus menyeberang ke benua Adrod? Seperti yang diharapkan, mengganggu hingga ke benua lain akan sulit bahkan untuk Elysion. Kami juga bisa berkemah di luar, membangun rumah di tempat pegunungan pada benua lain dan menunggu keadaan menjadi tenang"
"Kau pikir bisa melakukannya?"
"Bisa. Karena saya mempunyai kekuatan untuk mewujudkan itu"
Diriku pernah pergi jauh dari rumah tempatku dilahirkan. Aku bisa saja membawa mereka sendirian melintasi langit mirip ketika mengunjungi rumah Lior. Kami takkan tertangkap oleh jaring di pelabuhan lantaran tidak memakai kapal. Aku cukup yakin bisa melarikan diri.
Reese mulai bermasalah dengan wajah memerah, tapi saya mengacuhkannya lantaran merasa hal itu takkan berakhir.
"Kenapa kamu ingin membawa Reese?"
"Itu lantaran ia merupakan muridku. Gadis ini niscaya akan menjadi lebih kuat ketika bersama kami daripada mendapatkan sumbangan Anda"
"Begitukah....kau lulus!"
Lifell-hime kembali ke dirinya yang normal dan menyampaikan ekspresi menyegarkan. Dia sangat bersemangat sambil menatap Senia.
"Kau dengar itu, Senia? Tanpa mengalihkan tatapannya dari mataku, ia eksklusif menyatakan planning pelarian diri bersama Reese!"
"Ya. Seperti seorang pangeran dari negeri dongeng"
"Menakjubkan. Aku mungkin telah jatuh cinta padamu jikalau kamu sedikit lebih tua. Paling tidak Reese tidak keberatan, kan?"
"Eh?! Emm....Bukankah Ane-sama harusnya marah?"
"Reese, kakakmu tidak marah. Dia hanya sedang menguji"
Karena adik berharganya akan dipercayakan kepada seorang pria, sebagai abang ia perlu menguji pihak yang bersangkutan. Hanya saja, saya bisa mengerti kalau yang melaksanakan itu yakni kepala sekolah, tapi apa memang masuk logika untuk menguji orang lain dengan niat membunuh di dunia ini? Bagaikan berkata, 'Jangan pernah membalas jikalau kamu tidak mempunyai keberanian'.
Setelah tertawa bersama Senia sambil menatap Reese yang memerah, Lifell-hime yang puas mengulurkan tangannya padaku.
"Aku akan mengusirmu jikalau kamu benar-benar menyentuhku tanpa izin. Tapi lantaran sudah lulus, saya akan memberimu izin. Bagaimana dengan tangan? Aah, dadaku secara mutlak dihentikan meskipun kamu masih kecil"
"....Tangan anda saja sudah cukup"
Sayang sekali lantaran dada Lifell-hime hampir rata....tidak, hentikan aliran itu. Intuisinya yang bagus mungkin bisa menebak isi kepalaku.
Rasanya nyaman memegang tangan mulus Lifell-hime, walaupun suhu tingginya bisa terasa lantaran kondisi fisik yang buruk. Aku mengaktifkan {Scan} ke tangannya untuk mencari kelainan yang ada.
"....Tidak terjadi apapun. Apa yang sedang ia lakukan?"
"Sirius-sama sedang menyidik kelainan di tubuh memakai sihir aslinya. Hampir tak ada yang bisa dirasakan. Kami mengetahui itu lantaran sudah sering mendapat perlakuan serupa"
"Sihir untuk menyidik kelainan di tubuh....ya. Hal ini memang dihentikan diceritakan sembarang pada orang lain"
"Ane-sama, kenapa kamu bilang begitu? Aku pikir ini mungkin bisa menyelamatkan banyak orang"
"Tentu saja bisa, tapi akan ada banyak sekali pihak yang menargetkannya untuk menganalisa sihir ini. Jadi, kita harus mencegah penyebaran informasi. Senia, Melt, mirip yang kalian gres saja dengar, saya perintahkan kalian untuk memastikan tak ada sedikitpun kabar yang bocor. Ini mutlak dariku sebagai putri kerajaan"
"Mengerti"
"....Ya!"
Senia menundukkan kepala dengan anggun, Melt juga sama tapi dengan wajah yang masam.
Sejak saya memegang tangan Lifell-hime, cowok ini belum sekalipun melonggarkan genggaman dari pedangnya. Seolah siap untuk menebas kapanpun, saya niscaya sudah diserang jikalau Reus dan Senia tidak disini.
Adapun abang perempuan Reese, hasil investigasi {Scan} secara menyeluruh....telah dikonfirmasi.
Ini bukan duduk kasus mirip penyakit. Sederhananya, penyebab utama yakni faktor fisik.
Aku melepaskan tangannya dan kemudian mengumumkan hasilnya dengan bunyi yang bisa didengar oleh semua orang.
"Lifell-hime, ada benda asing di dalam tubuhmu"
Chapter 39 berakhir disini
>Catatan penulis : Benar juga. Aku akan menulis satu chapter dimana benda asing itu dikeluarkan dan menciptakan si putri sembuh. Awalnya, chapter ini terlalu panjang lantaran banyak sekali hal yang kutulis, tapi saya menentukan untuk memotongnya disini.
>Catatan penerjemah : ....Aku tidak suka pecahan dimana ceritanya dipenuhi bumbu politik, dsb....membuat kepala pusing saja....
Ke Halaman utama World Teacher
Ke Chapter selanjutnya
Sumber http://ifunnovel.blogspot.com/
Diterjemahkan oleh
Bagian 1
"Kakakku....Putri Lifell....aku ingin kamu bertemu dengannya"
Reese memohon padaku.
"Bertemu dengannya....Apa kakakmu ini, Lifell-hime sakit atau semacamnya?"
"Aku tidak begitu paham juga. Tiga hari yang kemudian kondisi fisiknya mulai memburuk secara tiba-tiba, dan gejalanya semakin parah hari demi hari...."
"Bagaimana dengan pengobatannya?"
"Sihir penyembuhku efektif. Gejalanya memang meringankan, tapi begitu saya berhenti, ia eksklusif menderita lagi...."
"Setiap kali kamu berhenti memakai sihir penyembuh, kamu melihatnya menderita lagi, ya....?"
Dia tampak kewalahan, inikah imbas dari memakai sihir penyembuh terus-terusan? Sangat mencengangkan, ia mungkin sudah berusaha keras hingga batas maksimal. Namun, apa lantaran kondisi saudaranya yang tidak membaik sama sekali, ia hingga tiba dan berkonsultasi padaku bahkan jikalau hal itu biasa membuatku terlibat dalam duduk kasus keluarga kerajaan?
"Setelah Haha-sama meninggal, saya diberitahu oleh seorang utusan bahwa diriku berasal dari keluarga kerajaan dan dipindahkan dari tempat tinggalku dulu ke istana. Begitu saya cemas wacana apa yang akan terjadi padaku....Ane-sama menyelamatkanku"
Reese mulai menceritakan situasinya ketika itu. Dia diperlakukan hambar ketika bertemu dengan ayahnya, sang Raja, hingga menciptakan gadis ini ingin menangis. Lifell-hime tampaknya telah memintanya untuk tetap tinggal dan membantunya beradaptasi.
Menurut sang putri, Reese merupakan orang yang tidak beruntung. Sebagai bekas rakyat biasa malah terlibat dengan kewajiban keluarga kerajaan. Kakaknya pun menyarankan biar gadis ini menyembunyikan status sosialnya bahkan ketika pergi ke sekolah.
"Berkat Ane-sama, saya bisa pergi ke sekolah, bertemu Emilia....sekaligus Sirius-san dan Reus. Tapi saya tak bisa melaksanakan apapun meski penyalamatku sedang menderita. Tolong! Bagaimanapun juga....tolonglah Ane-sama"
Reese frustrasi dengan ketidakberdayaannya. Dia terisak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Emilia mendekat dan memeluk gadis ini, sementara dengan lembut menepuk punggung untuk menenangkannya.
"Aku jadi ingin segera bertemu kakakmu itu. Tolong perkenalkan kami nanti"
"Aku juga!"
"Emilia, Reus....Iya, saya akan mengenalkan teman-temanku"
"Tentunya, saya juga harus mengenalkan diri sebagai Shishou dari Reese....Yah. Meski saya ragu ia akan mempercayainya atau tidak"
Itu lantaran saya lebih muda dan masih tampak mirip seorang anak. Mereka hanya akan menganggap diriku yang yakni Shisou-nya sebagai topik yang tidak masuk akal. Reese sedikit tertawa, mungkin ia juga memikirkannya.
"Reese, saya tidak tahu situasi kakakmu. Karena itulah, bisakah kamu memberi beberapa informasi sekarang? Kau bisa merasa duka nanti, kan?"
"Ya....benar juga. Itu memang harus. Jadi, dari mana saya harus bicara?"
"Pertama, sebutkan gejala-gejaoa penyakitnya. Rincian hari dan waktu ketika sakitnya muncul. Dan juga, apa ia pernah menderita penyakit parah di masa lalu?"
Jujur saja, saya ingin membantu, tapi tidak tahu bagaimana ia bisa jatuh sakit. Informasi dasar bisa di dapatkan selagi kami dalam perjalanan menuju tempat Lifell-hime, ini juga mempunyai kegunaan untuk menghemat waktu ketika tiba disana. Adapun rinciannya, itu bisa di dapatkan sesudah saya menyidik orang yang bersangkutan.
∆∆∆
Beberapa menit kemudian, kami tiba di tempat yang agak terpisah dari distrik dimana para aristokrat tinggal.
Di ujung taman luas indah nan rapi, berdiri sebuah bangunan besar yang bisa terlihat ditinggali puluhan orang dengan nyaman. Meski rumah aristokrat lainnya juga mewah, Mansion ini terang berada di peringkat yang berbeda.
"Keluargaku biasanya berada di istana, tapi semenjak ia sakit, Ane-sama menentukan beristirahat di sini"
"Hal ini tidak diketahui oleh publik, apakah ada perintah untuk mencegah penyebaran informasi?"
"Ya. Karena pembicaraan wacana pertunangan telah muncul, isu jelek ini ditutup-tutupi"
Saat turun dari kereta kuda sambil mendengarkan klarifikasi Reese, terlihat beberapa laki-laki dan perempuan keluar dari Mansion dan menuju ke arah kami. Mereka mengenakan sesuatu yang ibarat pakaian pelayan dan butler. Kau bisa mengerti kalau mereka yakni petugas rumah ini.
"Selamat tiba kembali, Reese-sama. Boleh saya tahu siapakah orang-orang ini?"
Setelah membungkuk ke Reese, perempuan bagus berpakaian pelayan yang mungkin pemimpin dari seluruh petugas, menatap kami. Kupikir ia berasal dari ras kelinci. Ada indera pendengaran panjang tegak di kepala dan ekor bundar di pantatnya.
Hanya saja, tatapan tajam itu menciptakan dirinya tidak tampak mirip pelayan normal. Ada kesan kalau ia merupakan individu yang mempunyai pengalaman bertarung. Mungkin jikalau saya mencoba menyakiti Reese, ia akan eksklusif mengambil hidupku.
Karena ia melihat kesini tampak berhati-hati, Reese pun bergegas mengenalkan kami.
"Aku pulang, Senia. Orang-orang ini yakni temanku----"
"Felice-sama! Kemana saja anda?!"
....Namun, satu orang memotongnya.
Dia yakni cowok yang mengenakan armor ringan didominasi warna biru dengan pedang terhiaskan banyak ornamen indah. Bisa dibayangkan kalau ia yakni ksatria penjaga yang melayani eksklusif atas perintah raja.
Pemuda energik, tapi pandangannya yang diarahkan kesini terisi kejijikan. Tidak....dilihat dari pergerakan bola matanya, ia sedang melihat Emilia dan Reus?
"Lagi pula, kenapa malah membawa dua ras hewan kesini? Meski anda yang paling tahu situasi sang putri"
"Diamlah, Melt"
"Apa katamu?!"
"Reese-sama tidak bisa menjelaskan apapun jikalau kamu terus bicara! Selain itu, akulah atasan di sini. Apa hak yang kamu punya hingga mengganggu ucapan dari adik perempuan Lifell-sama?!"
"Kuhh...."
Si ras kelinci, Senia rupanya yakni bos nya. Pria yang dipanggil Melt pun mundur sambil tampak menyesal. Disaat suasana suram mereda, Senia menjulurkan tangannya biar Reese melanjutkan.
"Emm....Ini teman-temanku, Emilia dan Reus. Juga master mereka berdua, Sirius-san"
"Senang bertemu denganmu, namaku Sirius"
"Namaku Emilia"
"Aku Reus"
Para petugas, termasuk Senia terkejut ketika kami menyapa dengan bungkukan yang diajarkan Kaa-san. Penampilan sopan santun tampaknya berpengaruh, kehati-hatian mereka menjadi sedikit berkurang. Seperti yang dibutuhkan dari teknik Kaa-san.
"Itu sangat sopan. Namaku Senia, saya merupakan petugas pribadi Lifell-sama. Jika benar yang disini yakni sahabat Reese-sama, kami akan menyambut kalian semua
Ketika Senia memberi salam dengan bungkukan yang tidak kalah dari ibu, beberapa petugas juga ikut menirunya. Mungkin ada faksi di antara mereka lantaran tidak semua orang melakukannya. Tapi, ayo kesampingkan duduk kasus itu sekarang.
"Maaf, Senia. Meskipun saya ingin lebih mengenalkan mereka, prioritasku yakni biar ketiganya bertemu Ane-sama sesegera mungkin"
"Tapi, Reese-sama, Lifell-sama----"
"Apa yang anda bicarakan?!"
Sekali lagi, laki-laki berjulukan Melt menyela. Dia melotot ke arah kami tanpa menyembunyikan niat membunuhnya. Tampak seolah dirinya siap menarik pedang.
"Apa yang Anda pikirkan dengan membiarkan orang biasa untuk melihat sang putri? Bahkan jikalau ia tidak sakit, sebagai Pengawal Kekaisaran, saya takkan pernah mengizinkan ini!"
"Jangan katakan hal mirip itu! Ada kemungkinan tinggi Ane-sama bisa sembuh. Tolonglah!"
"Tidak mungkin!!"
Pria ini tampaknya bertipe keras kepala, tapi apa yang ia ucapkan ada benarnya. Meski telah diperkenalkan oleh Reese, yakni hal yang tidak mungkin untuk membiarkan orang-orang mencurigakan bertemu eksklusif putri sebuah kerajaan. Namun tetap saja Reese tidak berhenti, ia masih memegang tangan Senia sambil memohon.
"Tolong, Senia. Jika kita menyerahkan ini pada Sirius-san, pasti....ya, ia niscaya bisa melaksanakan sesuatu untuk Ane-sama"
"Reese-sama...."
Sementara Melt menciptakan keributan, Senia memejamkan mata untuk mempertimbangkannya. Beberapa ketika kemudian, ia perlahan membuka mata dan memberi jalan ke arah mansion.
"Selamat datang, semuanya. Lifell-sama sedang beristirahat di dalam"
"Bajingaaan!! Berani-beraninya kamu mengabaikan pendapatku sebagai Pengawal Kerajaan?!"
"Perintahku lebih diutamakan di mansion ini. Lagi pula, kamu juga harus ikut. Jika mereka mengambil tindakan bermusuhan, bergeraklah tanpa ragu selayaknya Penjaga Kekaisaran"
"Tentu saja. Aku akan eksklusif menebas, jikalau mereka menyampaikan sikap mencurigakan"
"Senia...."
"Maafkan aku. Apa yang dikatakan Melt memang masuk akal. Karena itulah, saya akan membawanya"
"Tidak. Terima kasih, Senia!"
Saat Reese memeluknya, Senia memasang wajah di penuh kasih sayang. Ekspresi itu mirip dengan Erina, menciptakan Emilia dan Reus menyipitkan mata.
Reese yang tak pernah mempunyai aliran jelek terhadap ras hewan mungkin berkat Senia, lantaran itulah ia bisa berteman dengan Emilia.
"Sirius-san, ayo pergi"
"Ya"
"Silakan, kearah sini"
∆∆∆
Reese, kami dan si Penjaga Kerajaan, Melt, dibimbing ke dalam mansion oleh Senia.
Bagian dalam bangunan ini sungguh megah, dilengkapi patung-patung dan sofa mewah. Sementara berjalan sambil melihat interiornya, Emilia dan Reus berkali-kali menoleh kebelakang untuk mengintip sosok Melt. Ini masuk akal lantaran cowok itu terus melepaskan niat membunuh semenjak beberapa waktu yang lalu. Hanya saja, kenapa ia terlalu bersikap hati-hati terhadap kami yang bahkan tidak membawa senjata?
"Kendalikan niat membunuhmu, Melt. Untuk apa kamu menyebabkan belum dewasa sebagai musuh?"
"Aku hanya memastikan mereka tidak melaksanakan hal-hal yang tidak perlu"
"Apa pun, tolong tenangkan dirimu. Kita akan segera hingga di ruangan Lifell-sama. Apakah pantas untuk seorang Pengawal Kerajaan mirip itu di erat tuannya?"
"....Apa boleh buat"
Begitu Melt tenang, kamipun tiba di depan pintu ganda yang megah. Mungkin abang perempuan Reese, Lifell-hime, ada di baliknya.
Senia mengetuk sambil bertanya, yang kemudian diikuti sebuah bunyi dari dalam.
"Lifell-sama, Reese-sama gres saja kembali. Dia meminta Anda untuk bertemu teman-temannya, apakah anda mengizinkan?"
"Teman Reese?! Dia kesannya mengundang mereka ya. Bawa mereka masuk"
"Silakan, semuanya"
Ketika Senia membuka pintu dan memperbolehkan setiap orang masuk, Reese lah yang bergegas kesana pertama, diikuti oleh kami.
Tempat ini tampak mirip perpustakaan kecil lantaran banyaknya rak yang berjejer terisi buku. Di ujung kamar, terdapat kasur lengkap dengan kanopinya. Disana, seorang peremuan dengan rambut merah lurus panjang hingga ke pinggang mengangkat pecahan atas tubuh dan menolehkan wajahnya ke arah kami.
"Aku pulang, Ane-sama"
"Selamat tiba kembali, Reese. Aku sempat gundah lantaran kamu pergi dengan tergesa-gesa, tapi ternyata itu untuk mengundang teman-temanmu"
Sesuai dengan gelarnya sebagai putri, Lifell-hime benar-benar cantik. Dia mungkin kehilangan sedikit berat tubuh lantaran sakit, tapi mata merahnya yang cerah membuatku ragu apa ia benar-benar sakit atau tidak.
"Ya, Ane-sama. Namun, bagaimana dengan kondisi fisikmu? Karena Mana-ku sudah agak pulih, haruskah saya merawatmu lagi dengan sihir penyembuh?"
"Jangan memaksakan diri. Bukankah kamu tadi runtuh lantaran kewalahan?"
"Dibandingkan dengan Ane-sama, ini bukan apa-apa"
"Lagipula, walaupun sembuh, rasa sakitnya akan kembali. Kesampingkan itu, bagaimana kalau memperkenalkan belum dewasa di belakangmu? Aku harus menyapa mereka, yang terus kamu ceritakan dengan bangga, kan"
"Bangga....apa maksudnya, Reese?"
"Ha-Hanya pembicaraan normal! Ane-sama juga, jangan katakan hal yang aneh!"
Reese sempat panik, tapi segera kembali normal. Gadis ini menyampaikan penampilan yang sama mirip ketika bersama kami. Dengan kata lain, Lifell-hime yakni sahabat yang Reese percayai.
"Bagaimanapun, izinkan saya mengenalkan mereka. Anak ini yakni Emilia. Dia sahabat pertamaku di sekolah"
"Senang bertemu dengan Anda, namaku Emilia. Aku sering dibantu oleh Reese"
"Anak yang sangat sopan dan santun, mirip yang pernah kudengar. Hmm, ia memang mirip Senia"
"Ane-sama?!"
"Tahukah kau, Emilia? Sejak tinggal di sini, anak ini selalu dimanjakan oleh Senia. Mungkin itu sebabnya ia menjadi sangat baik hati kepada ras binatang, hingga bisa berteman denganmu. Aku hanya merasa bahagia ketika tahu bahwa dirinya mempunyai kekerabatan sedekat itu dengan orang yang mirip Senia
"Ane-sama....tolong hentikan"
Seorang putri yang cara bicaranya terlalu berterus terang, ya. Dia mungkin mirip ini hanya ketika dengan adiknya, tapi saya tidak membenci sifat itu. Wajah Reese memerah sambil terus melambaikan tangan pada Lifell-hime.
"Kau begitu imut ketika tersipu. Oh ya, mungkin kalian sudah tahu ini, tapi namaku yakni Lifell. Ngomong-ngomong....Rambut perak Emilia terlihat benar-benar indah. Boleh saya menyentuhnya?"
"Jika Anda tidak keberatan dengan rambutku, silakan"
"Hime-sama! Ingatlah kalau Anda sedang sakit, kenapa malah ingin menyentuh ras binatang?!"
"Jangan khawatir. Aku juga peduli pada kondisiku sendiri, tapi saya tetap ingin menyentuh rambutnya. Jadi, biarkan saya melaksanakan ini!"
Meskipun Melt berteriak dari sudut ruangan, Lifell-hime bahkan sama sekali tidak menatapnya dan hanya berfokus menyentuh rambut Emilia.
"Menakjubkan....sangat halus dan tak kusut sedikitpun ketika jariku menyisirnya. Bagaimana kamu bisa secantik ini?"
"Berkat masterku....Sirius-sama. Selain diberi masakan bernutrisi seimbang setiap hari, kami juga diajari cara menjaga tubuh. Jadi, bukan hanya rambut, kami sendiri sangat sehat"
"Begitu ya. Makara itu sebabnya Reese tampak bagus akhir-akhir ini. Hei, saya juga ingin kamu mengajariku banyak sekali hal"
Sifat berterus terang Princess Lifell tidak berhenti bahkan sesudah Senia memanggilnya berkali-kali. Reese agak malu akan adegan itu, tapi lantaran pengenalan diri belum selesai, ia secara paksa menghentikannya.
"Ane-sama, tolong hentikan. Daripada itu, anak yang dsini yakni Reus. Dia adik Emilia"
"Senang bertemu dengan anda. Namaku Reus, sahabat yang juga Reese-ane anggap sebagai adik"
"Hmmm....kau terlihat lebih tangguh dari apa yang kudengar. Jika Reese menganggapmu sebagai adik, saya juga akan memperlakukanmu secara sama. Tidak perlu memakai sebutan kehormatan untukku. Bagaimana kalau bicara mirip biasa?"
"Hime-sama! Menggunakan sebutan kehormatan yakni kewajiban bagi kaum jelata!"
"Melt, akulah yang memintanya, jadi itu tidak masalah. Aku tak melarangmu bersikap profesional akan pekerjaan, tapi memahami keputusan tuanmu juga merupakan pecahan dari tugas, kamu tahu"
"Kuh....mengerti"
Melt pun membisu dengan enggan. Terlalu loyal terhadap kiprah juga merepotkan. Pemuda ini tampaknya sangat tidak cocok melayani Lifell-hime. Tapi sayang sekali, saya tidak bisa bersimpati untuknya. Tatapan hambar yang ia tunjukkan untuk ras hewan cukup membuatku tidak suka.
"Kalau begitu, Lifell-ane....apa mirip itu boleh? Aku Reus, bahagia bertemu denganmu"
"Kau masih agak kaku, tapi....yah, tidak apa-apa. Senang bertemu denganmu, Reus. Kudengar kamu telah melindungi Reese dari kelompok pembunuh yang mengerikan, jadi saya ingin mengungkapkan rasa syukur ku setidaknya satu kali"
"Aku tidak melakukannya biar bisa mendapatkan ucapan terima kasih. Lagi pula, meski sudah berjuang, saya masih tidak bisa melindungi Nee-chan dan Reese-ane hingga akhir"
"Bukankah Reese ada di sini kini berkat perjuanganmu? Ucapan terima kasihku tidaklah salah, menerimanya juga merupakan bentuk kesopanan"
"Apakah begitu? Lalu, saya akan menerimanya"
"Anak baik"
Ketika kepalanya selesai ditepuk dengan lembut, Reus menggaruk pipinya malu-malu. Bagus, Reus. Ditepuk oleh putri sebuah kerajaan yakni hal yang langka, kamu tahu.
"Lalu, anak yang itu?"
"Ya, Ane-sama. Dia yakni Shishou-ku, yang telah mengajarikan banyak sekali hal padaku hingga sekarang. Dialah Sirius-san"
"Senang bertemu dengan Anda, Lifell-hime"
"Jadi....ini Sirius-san, orang yang dikagumi Reese ya. Kudengar kamu lebih muda, tapi boleh saya tahu berapa usiamu?"
Sambil melihatku dari kepala hingga ujung kaki, ia melontarkan pertanyaan. Jika tidak salah, dirinya berusia 17 tahun, tapi itu akan sulit dipercaya ketika tahu bahwa ia mempunyai wawasan yang sangat luas. Ditatap oleh perempuan yang pantas disebut jenius begitu lekatnya membuatku mulai takut.
"Aku akan berusia dua belas di tahun ini....Sesuai dugaan, akan abnormal jikalau saya membimbing Reese ya?"
"Yah. Dia menjadi sangat hebat sesudah bertemu denganmu. Dari awal, gadis ini memang sudah luar biasa. Tapi, kini akan masuk akal jikalau sihir penyembuhan Reese disebut sebagai yang terbaik di kerajaan. Selain itu, suasana yang terasa darimu tidak mirip anak kecil biasa. Benar juga....lebih mirip Otou-sama"
Langsung bisa memahami diriku ketika bertemu untuk pertama kalinya, sama mirip kepala sekolah....dia bukan orang biasa. Seperti yang bisa diduga dari calon Ratu berikutnya.
"Anak sepertiku mirip dengan sang Raja? Anda niscaya bercanda"
"Yah, saya tidak terlalu peduli wacana itu. Poin paling penting adalah, berkatmu Reese menjadi lebih kuat. Biarkan saya berterima kasih bukan sebagai putri Lifell, tapi sebagai saudara perempuan Reese"
"Aku niscaya menerimanya. Namun, Reese yang kini merupakan hasil dari usahanya sendiri. Aku hanya sedikit membantu. Selain itu, masuk akal saja karena saya Shisou nya"
"Apakah kamu sungguh berusia 11 tahun? Aku jadi mulai mengerti kenapa Reese ingin merangkul punggungmu"
"Ane-sama!"
"Aah maaf. Itu diam-diam ya. Ngomong-ngomong, saya sempat khawatir lantaran Reese tidak ada di sampingku sesudah ia masuk sekolah. Aku benar-benar lega begitu tahu ternyata kalian berteman meski sudah mengetahui identitas aslinya"
"Maaf jikalau pertanyaan ini cukup kasar, tapi kenapa keberadaan Reese disembunyikan?"
Masyarakat hanya tahu kalau kerajaan ini hanya mempunyai seorang putri, yaitu Lifell-hime. Namun, kenyataanya adalah, terdapat satu perempuan lagi yang diakui sebagai putri selain dirinya. Lalu kenapa keluarga kerajaan menyembunyikan fakta itu?
Ini bisa menjadi titik balik untuk putri negeri ini. Karena sudah terlanjur terlibat walaupun hanya sedikit, saya jadi ingin lebih memahaminya.
"Jangan lancang, jelata! Jika kamu membuka mulutmu lebih dari itu, saya akan menebasmu!"
"...."
Karena terkait dengan diam-diam keluarga kerajaan, masuk akal jikalau Melt mengambil ancang-ancang dari belakang. Aku juga bisa mencicipi niat membunuh dari Senia yang berdiri di samping Lifell-hime dan menggenggam tangannya. Reus melindungi punggungku, sedangkan Emilia melangkah agak maju. Sambil waspada, saya melihat Reese yang mengawasi adegan ini dengan tatapan bermasalah.
Situasi bagaikan benang yang terus diregangkan itupun berlanjut untuk sebentar, hingga kesannya teputus oleh Lifell-hime.
"Senia, Melt. Tolong berhenti"
"Mengert"
"Tapi---!"
"Reese sangat mempercayai belum dewasa ini. Aku juga berpikir hal itu perlu dibicarakan lantaran mereka berhak untuk tahu"
"Ane-sama....Ya. Aku tidak ingin lagi menyembunyikan sesuatu dari teman-temanku"
"Benar kan? Yah, alasan sesederhana itu tidaklah aneh. Asalkan mereka tidak memberitahu orang lain, saya takkan keberatan menjelaskannya"
"Aku berjanji untuk tidak membuatkan informasi ini ke siapapun. Aku hanya ingin tahu lebih banyak wacana Reese"
Jujur saja, saya tidak ingin mempunyai keterkaitan apapun dengan keluarga kerajaan, tapi berbeda lagi jikalau Reese terlibat didalamnya. Setelah lulus, kami ingin ia untuk ikut dalam perjalanan walau akan sulit jikalau keluarga kerajaan terlibat.
Andaikan kami pergi nantinya, saya jadi tidak perlu memikirkan hidangan latihan dan ia bisa hidup dengan aman. Tak peduli bagaimana saya memandangnya, ia tidak mempunyai karakteristik seseorang yang bekerjasama dengan keluarga kerajaan, dirinya lebih cocok diajarkan sihir ofensif dan cara mengintimidasi.
"Alasan keberadaan Reese yang tidak diumumkan yakni lantaran ia merupakan anak haram, namun duduk kasus utamanya bertumpu pada gangguan dari banyak pihak. Bila jumlah anak perempuan meningkat, tentu saja akan ada banyak aristokrat yang ingin masuk ke keluarga kerajaan dengan berebut anak ini untuk dijadikan istri. Aku bisa saja menyingkirkan orang-orang itu, tapi Reese akan gampang tertipu. Yah, apa boleh buat lantaran ia sebelumnya yakni rakyat jelata yang baik dan lembut"
"Rasanya saya mulai mengerti. Makara tujuanya biar ia tidak dipandang sebagai 'hidangan lezat' oleh orang lain, ya*"
[Ini diucapkan oleh Emilia]
"Ane-sama, Emilia juga....Aku merasa jelek jikalau kalian mengatakannya sejelas itu"
Keceriaan dimana ia kesannya bisa mengenalkan teman-temannya sendiri ke kakaknya pun perlahan tersingkir. Reese terlalu naif mirip biasanya, tapi itu juga merupakan daya tarik yang gadis ini miliki.
"Itulah sebabnya saya memberi tahu Tou-san untuk menyembunyikan informasi. Makara orangnya sendiri bisa menentukan apa yang ia inginkan sesudah dewasa"
Hidup sebagai putri kedua keluarga kerajaan atau menemukan cara gres untuk hidup sebagai rakyat jelata....semuanya terserah dia.
"Aniki, aniki. Jika kita bisa meyakinkan Reese-ane, bukankah kita bisa bepergian bersama?"
"Yah, mungkin saja"
Dia mempunyai abang perempuan yang bisa diandalkan di sini. Bahkan jikalau kami mengajaknya untuk ikut, itu tidak akan bisa diputuskan dengan cepat.
Lebih baik beralih untuk menanyakan hal penting lainnya.
"Apa ia mempunyai hak untuk naik takhta?"
"Kau cukup tegas, Sirius-kun. Dia memang memilikinya, tapi di urutan paling bawah lantaran masih ada saudara-saudaranya yang lain termasuk diriku. Itu mustahil, kecuali semua orang di keluarga kerajaan meninggal lantaran kastil terkena hantaman sihir yang dahsyat"
"Lifell-sama, tolong berhenti menyampaikan hal tidak bijaksana mirip itu"
"Kau paham sekarang, bajingan?! Jika Felice-sama diambil sebagai istri, orang itu bisa naik dalam keluarga kerajaan!"
Melt mulai melontarkan olok-olokan sambil menunjukku. Dia menyebutkan kelemahan dari duduk kasus ini, mungkin apa boleh buat jikalau orang bersangkutan tidak mengetahui apapun wacana itu*.
[Yg disinggung disini yakni Reese yg tak mengetahui kalau dirinya bisa naik takhta]
"Ada apa? Sepertinya kamu mempunyai hal untuk dikatakan"
"Kesampingkan Reese, saya sama sekali tidak tertarik dengan urusan keluarga kerajaan. Sebaliknya, saya lega ketika Anda menjelaskan bahwa ia tidak mungkin bisa naik takhta"
Reese panik dengan wajah memerah ketika mendengar jawabanku. Bergantung pada siapa yang mendengarkan, ini bisa saja ditafsirkan mirip 'Jadi tidak duduk kasus kalau saya menikahi Reese'.
Gadis itu tampaknya tidak tertarik dengan urusan keluarga kerajaan. Kurasa posisinya yang kini yakni yang terbaik.
"Fufu....mampu memahami hal-hal wacana Reese dengan sangat cepat, apa kamu punya pertanyaan lain?"
"Tidak, tidak ada"
"Kalau begitu, haruskah kita mengobrol sedikit lagi? Aku ingin tahu apa yang dilihat Reese pada kalian"
"Tentu saja---....itulah yang ingin saya balas, tapi pertama, saya ingin menuntaskan usul Reese"
"Permintaan? Permintaan macam apa itu, Reese"
"Benar juga, Ane-sama! Ini wacana penyakitmu!"
Dia tampaknya lupa lantaran depresi ketika rahasianya terbongkar. Sisi Reese yang malu juga menggemaskan.
Ekspresinya memang imut, tapi kata-katanya masih terang dan serius. Kupikir saya harus menyerahkan ini padanya daripada mencoba menyidik Lifell-hime dengan tergesa-gesa. Hanya saja, ketika berpikir kalau orang yang membawa kami kesini malah melupakan tujuannya sendiri....
"Tidak apa-apa Reese. Tubuhku memang terasa lemas, tapi tampaknya obat gres akan tiba disini besok. Aku niscaya bisa sembuh jikalau meminumnya"
"Tak ada jaminan mirip itu! Bukankah abang menyampaikan bahwa sihir penyembuhku merupakan yang hampir terbaik di kerajaan ini? Lalu kenapa tanda-tanda kesembuhanmu tidak muncul?!"
"Mungkin penyakitnya memang tidak bisa dilenyapkan dengan kekuatan sihir. Selain itu, kamu tak perlu sekhawatir itu lantaran saya berencana memanggil dokter dari tempat jauh jikalau obatnya tidak manjur"
"Kalau begitu....bagaimana dengan meminta Sirius-san untuk memeriksamu?"
"Sirius-kun?"
"Ya. Sirius-san mengenal tubuh insan dengan baik, sihir penyembuhku berada di tingkat ini lantaran diajari olehnya. Itulah kenapa saya berpikir untuk membawanya dan menyidik penyebab penyakit Ane-sama"
"Jadi....Apa ia akan menyentuhku?"
"Benar. Sirius-san, maukah kamu melakukannya?"
"Tolong tunggu"
Ekspresi Lifell-hime berubah ketika Reese mendorong diriku ke hadapannya.
Itu bukan lagi wajah lembut seorang abang perempuan, melainkan sang putri kerajaan, Lifell Bardfeld. Dia melihat ke sini dengan tatapan tajam.
"Reese, meski kamu yakni adik perempuanku, apa kamu tidak mengerti posisi kakakmu ini? Tak peduli seberapa inginnya kau, saya takkan membiarkan sikap egois semacam itu"
"Tapi....tapi saya khawatir dengan Ane-sama!"
"Ya, saya mengerti akan kebaikanmu itu. Tapi, diriku tetaplah seorang putri. Ini yakni sesuatu yang tidak bisa saya abaikan jikalau merupakan usul dari adikku sendiri. Dan untuk Sirius-kun"
"Apa itu?"
"Untuk menyentuhku yang merupakan putri sebuah kerajaan sebelum pernikahannya. Apa kamu siap dengan resikonya?"
Aku beranggapan kalau hal ini bukanlah suatu duduk kasus lantaran Lifell-hime sendiri menepuk kepala Reus. Masalahnya mungkin pada Menyentuh tanpa izin, tapi....bagiku itu tidak relevan.
"Tidak masalah. Aku ingin membantu lantaran Reese yang meminta. Lagipula, Anda merupakan kakaknya. Hanya saja, saya mempunyai syarat sebelum bertindak"
"Heehh....setelah saya menyatakan bahwa menyentuhku itu tidak diizinkan, kamu memunculkan syarat ya. Boleh saya mendengarnya?"
"Aku akan memakai sihir khusus yang dihentikan diketahui oleh orang lain. Aku ingin Anda berjanji untuk tidak membuatkan informasi wacana itu"
"Bajingan! Beraninya kamu menyampaikan sikap lancang kepada sang Putri! Tak bisa diampuni!"
"Diamlah, Melt. Akulah yang berbicara dengannya.....Apa yang akan terjadi jikalau saya tidak bisa merahasiakannya?"
"Jika informasinya hingga bocor, saya akan membawa Reese kabur dari Elysion"
"Heeehh?!"
Sebuah pelarian yang sempurna. Kedua bersaudara niscaya akan ikut. Aku tidak mempunyai alasan untuk tetap tinggal jikalau murid-murid juga bersamaku. Aku bisa membawa Reese pergi dengan bebas dan melarikan diri.
Wajah orang yang bersangkutan memucat, sedangkan kakaknya melihat ke sini dengan niat membunuh.
"....Apa menurutmu saya akan membiarkan itu? Kelompok pengejar akan dikerahkan untuk segera menangkapmu"
"Kalau begitu, saya mungkin harus menyeberang ke benua Adrod? Seperti yang diharapkan, mengganggu hingga ke benua lain akan sulit bahkan untuk Elysion. Kami juga bisa berkemah di luar, membangun rumah di tempat pegunungan pada benua lain dan menunggu keadaan menjadi tenang"
"Kau pikir bisa melakukannya?"
"Bisa. Karena saya mempunyai kekuatan untuk mewujudkan itu"
Diriku pernah pergi jauh dari rumah tempatku dilahirkan. Aku bisa saja membawa mereka sendirian melintasi langit mirip ketika mengunjungi rumah Lior. Kami takkan tertangkap oleh jaring di pelabuhan lantaran tidak memakai kapal. Aku cukup yakin bisa melarikan diri.
Reese mulai bermasalah dengan wajah memerah, tapi saya mengacuhkannya lantaran merasa hal itu takkan berakhir.
"Kenapa kamu ingin membawa Reese?"
"Itu lantaran ia merupakan muridku. Gadis ini niscaya akan menjadi lebih kuat ketika bersama kami daripada mendapatkan sumbangan Anda"
"Begitukah....kau lulus!"
Lifell-hime kembali ke dirinya yang normal dan menyampaikan ekspresi menyegarkan. Dia sangat bersemangat sambil menatap Senia.
"Kau dengar itu, Senia? Tanpa mengalihkan tatapannya dari mataku, ia eksklusif menyatakan planning pelarian diri bersama Reese!"
"Ya. Seperti seorang pangeran dari negeri dongeng"
"Menakjubkan. Aku mungkin telah jatuh cinta padamu jikalau kamu sedikit lebih tua. Paling tidak Reese tidak keberatan, kan?"
"Eh?! Emm....Bukankah Ane-sama harusnya marah?"
"Reese, kakakmu tidak marah. Dia hanya sedang menguji"
Karena adik berharganya akan dipercayakan kepada seorang pria, sebagai abang ia perlu menguji pihak yang bersangkutan. Hanya saja, saya bisa mengerti kalau yang melaksanakan itu yakni kepala sekolah, tapi apa memang masuk logika untuk menguji orang lain dengan niat membunuh di dunia ini? Bagaikan berkata, 'Jangan pernah membalas jikalau kamu tidak mempunyai keberanian'.
Setelah tertawa bersama Senia sambil menatap Reese yang memerah, Lifell-hime yang puas mengulurkan tangannya padaku.
"Aku akan mengusirmu jikalau kamu benar-benar menyentuhku tanpa izin. Tapi lantaran sudah lulus, saya akan memberimu izin. Bagaimana dengan tangan? Aah, dadaku secara mutlak dihentikan meskipun kamu masih kecil"
"....Tangan anda saja sudah cukup"
Sayang sekali lantaran dada Lifell-hime hampir rata....tidak, hentikan aliran itu. Intuisinya yang bagus mungkin bisa menebak isi kepalaku.
Rasanya nyaman memegang tangan mulus Lifell-hime, walaupun suhu tingginya bisa terasa lantaran kondisi fisik yang buruk. Aku mengaktifkan {Scan} ke tangannya untuk mencari kelainan yang ada.
"....Tidak terjadi apapun. Apa yang sedang ia lakukan?"
"Sirius-sama sedang menyidik kelainan di tubuh memakai sihir aslinya. Hampir tak ada yang bisa dirasakan. Kami mengetahui itu lantaran sudah sering mendapat perlakuan serupa"
"Sihir untuk menyidik kelainan di tubuh....ya. Hal ini memang dihentikan diceritakan sembarang pada orang lain"
"Ane-sama, kenapa kamu bilang begitu? Aku pikir ini mungkin bisa menyelamatkan banyak orang"
"Tentu saja bisa, tapi akan ada banyak sekali pihak yang menargetkannya untuk menganalisa sihir ini. Jadi, kita harus mencegah penyebaran informasi. Senia, Melt, mirip yang kalian gres saja dengar, saya perintahkan kalian untuk memastikan tak ada sedikitpun kabar yang bocor. Ini mutlak dariku sebagai putri kerajaan"
"Mengerti"
"....Ya!"
Senia menundukkan kepala dengan anggun, Melt juga sama tapi dengan wajah yang masam.
Sejak saya memegang tangan Lifell-hime, cowok ini belum sekalipun melonggarkan genggaman dari pedangnya. Seolah siap untuk menebas kapanpun, saya niscaya sudah diserang jikalau Reus dan Senia tidak disini.
Adapun abang perempuan Reese, hasil investigasi {Scan} secara menyeluruh....telah dikonfirmasi.
Ini bukan duduk kasus mirip penyakit. Sederhananya, penyebab utama yakni faktor fisik.
Aku melepaskan tangannya dan kemudian mengumumkan hasilnya dengan bunyi yang bisa didengar oleh semua orang.
"Lifell-hime, ada benda asing di dalam tubuhmu"
Chapter 39 berakhir disini
>Catatan penulis : Benar juga. Aku akan menulis satu chapter dimana benda asing itu dikeluarkan dan menciptakan si putri sembuh. Awalnya, chapter ini terlalu panjang lantaran banyak sekali hal yang kutulis, tapi saya menentukan untuk memotongnya disini.
>Catatan penerjemah : ....Aku tidak suka pecahan dimana ceritanya dipenuhi bumbu politik, dsb....membuat kepala pusing saja....
Ke Halaman utama World Teacher
Ke Chapter selanjutnya
Sumber http://ifunnovel.blogspot.com/
